15Jun
Business & Profile

Berpacu Menuju Otomatisasi

by Shermine Gotfredsen, General Manager at Universal Robots SEA & Oceania

Indonesia pernah dinobatkan sebagai salah satu dari 10 negara dengan industri manufaktur teratas dunia pada tahun lalu oleh Organisasi Pengembangan Industri Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNIDO). Urutan pertama kala itu ditempati oleh Tiongkok.

Sektor manufaktur di Indonesia menyumbang hampir seperempat bagian dari PDB. Namun, sektor ini cenderung terbebani oleh sumber daya manusia yang lamban, produktivitas kerja rendah dan biaya produksi tinggi. Kondisi yang kurang menguntungkan ini dapat ditangani dengan mengalihkan fokus pada otomatisasi.

Asia yang Kompetitif

Beberapa perusahaan manufaktur di Asia telah menerapkan otomatisasi menggunakan robot di pabrik mereka. Perusahaan-perusahaan manufaktur, khususnya di Jepang, Tiongkok dan Thailand, telah menjalankan lini produksi dan perakitan menggunakan robot kolaboratif (collaborative robots=cobots) – robot yang dirancang untuk bekerja berdampingan dengan para karyawan, untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas.

Menghadapi kondisi yang ada, Indonesia tentu bisa mendapatkan hasil lebih baik dengan memanfaatkan otomatisasi. Kepadatan robot di Indonesia adalah 39 unit robot per 10.000 karyawan, jauh di bawah rata-rata global yang mencapai 66 unit. Sementara Tiongkok telah menunjukkan adopsi robotika yang agresif hingga menempati peringkat teratas manufaktur UNIDO tahun lalu.

Mengatasi Tantangan

Posisi Indonesia dalam persaingan otomasi perlu bergerak maju seiring dengan pergerakan negara menuju aspirasi Industri 4.0. Meski demikian, banyak perusahaan manufaktur yang masih ragu menggunakan robotika. Beberapa pebisnis tidak memahami manfaatnya, beberapa masih belum yakin bagaimana caranya mengintegrasikan teknologi ini ke dalam sistem operasional mereka, sementara yang lain menganggap bahwa adopsi robotika merupakan teknologi yang mahal.

Terlepas dari apapun alasannya, perusahaan-perusahaan manufaktur perlu mempercepat laju adopsi robotika. Titik awal yang baik adalah dengan penggunaan cobots, yang bisa menjadi daya saing utama dalam bisnis manufaktur, yaitu memanfaatkan cara produksi yang lebih cerdas dan mencapai pertumbuhan yang lebih berkelanjutan.

Mengapa Cobots?

Pertama, cobots mudah digunakan, memberikan keamanan dan fitur ramah pengguna; mudah diprogram dan diintegrasikan ke dalam aplikasi yang ada. Cobots juga menawarkan fleksibilitas dalam penggunaan, memungkinkan jalur produksi diprogram ulang dengan cepat untuk berbagai tipe dan tingkat produksi. Sebagai contoh, cobots dapat digunakan secara bolak-balik untuk pengemasan dan pelabelan paket makanan. Hal ini tentunya menghemat waktu dengan cukup signifikan, sekaligus mengurangi kebutuhan untuk berinvestasi pada banyak jenis mesin.

Kedua, cobots adalah pilihan hemat biaya untuk otomatisasi. Biaya integrasi umumnya cenderung rendah dibandingkan dengan pertumbuhan bisnis jangka panjang, dan penggunaan cobots dapat meningkatkan produktivitas, dengan hasil yang terbukti meningkat sebanyak 30 persen per pekerja di sektor manufaktur. Kemampuan cobots untuk berfungsi sepanjang hari dan sepanjang tahun juga mampu membantu suatu bisnis dalam memaksimalkan efisiensi operasional dan mengurangi downtime produksi. Dengan ketepatan yang ditawarkan oleh cobots, perusahaan manufaktur dapat memberikan hasil berkualitas lebih tinggi dan mengurangi pemborosan, yang dapat mendorong pertumbuhan yang lebih berkelanjutan untuk bisnis ini.

Selain itu, penggunaan cobots juga membuka peluang pendapatan dari aktivitas yang bernilai lebih tinggi bagi perusahaan-perusahaan manufaktur, dimana para pekerja dapat dimanfaatkan untuk mengerjakan tugas lain yang nilainya lebih tinggi. Faktanya, peluang peningkatan keahlian ini juga dapat menguntungkan karyawan. Contohnya, sektor otomotif di Jerman mengalami peningkatan dalam penyerapan tenaga kerja seiring dengan meningkatnya penggunaan robot. Asosiasi Robotika dan Otomatisasi VDMA Jerman meyakini bahwa keterampilan manusia yaitu: pengetahuan, ketangkasan, serta kreativitas, dapat meningkat nilainya jika pekerjaan yang ritmenya berulang-ulang dapat diselesaikan secara otomatis.

Meski demikian, banyak perusahaan yang seringkali salah memperhitungkan keuntungan yang akan mereka dapatkan dari investasi robotika, khususnya ketika mengkalkulasi payback period dan return on investment (ROI) untuk mengevaluasi kelangsungan bisnisnya. Metrik yang diturunkan biasanya gagal untuk mencerminkan keuntungan jangka panjang apabila dihitung berdasarkan penghematan biaya langsung dan keuntungan jangka pendek. Mereka mengabaikan aspek lain yang menguntungkan finansial perusahaan. Pada kenyataannya, banyak bisnis mengalami penurunan dalam hal pemborosan material sehingga mengurangi biaya kumulatif, meningkatkan efisiensi produksi, memperkecil biaya yang harus dikeluarkan terkait dengan tenaga kerja, dan waktu yang dihabiskan untuk perekrutan dan pelatihan jadi lebih singkat. Hal-hal tersebut merupakan elemen penting yang harus dimasukkan dalam perhitungan ROI atau payback equation.

Jalur Otomasi Robotik

Selain keuntungan jangka panjang dari penggunaan robotika, perusahaan-perusahaan manufaktur saat ini juga merasa lebih mudah untuk mengintegrasikan robotika ke dalam sistem operasional mereka. Cobots yang tersedia saat ini jauh lebih tangkas daripada robot-robot di industri tradisional. Mereka bisa melakukan tugas sederhana dengan biaya rendah dan efisiensi yang lebih tinggi. Proses yang sifatnya berulang atau berpotensi menimbulkan bahaya bagi karyawan, dan yang tidak memerlukan ketangkasan manusia, pemikiran kritis atau pengambilan keputusan secara langsung merupakan hal-hal yang ideal untuk diotomasikan.

Manfaat yang didapat dari meningkatkan proses manufaktur dengan robotika jelas lebih besar daripada biayanya. Banyak bisnis-bisnis di Asia yang mempercepat penerapan otomatisasi mereka, untuk dapat tetap bersaing di industri. Instalasi robot di Asia / Australia diproyeksikan tumbuh sebesar 15 persen antara tahun 2017 dan 2019, Tiongkok diperkirakan akan menjadi kontributor terbesar dalam pertumbuhan ini. Seiring dengan semakin berkembangnya penggunaan otomasi robotik di Asia, Indonesia harus mulai mengambil langkah yang lebih pasti dan konkrit dalam hal otomasi jika ingin mempertahankan tingkat pertumbuhan industri, bersaing dengan negara lain di wilayah ini, dan menarik perhatian para penanam modal global.

 

Teks : Indra || Foto : IST

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

FOLLOW @ INSTAGRAM