15Jun
Health

Yuk, Kenali Gejala Gangguan Tiroid

Memperingati Pekan Kesadaran Tiroid Internasional 2017, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bersama Merck, serta Prodia kembali mengajak masyarakat untuk mengenali dan memahami gejala gangguan tiroid.

Gejala gangguan tiroid sangat bervariasi dan tidak khas sehingga sering kali hanya dianggap sebagai keluhan akibat gaya hidup serba modern. Hal ini menjadikan gangguan tiroid diabaikan, tidak terdiagnosa sehingga terlambat diobati dan menurunkan kualitas hidup penderita.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI dr. Lily Sriwahyuni Sulistyowati, MM menyatakan, “Pada tahun 2015, Indonesia menempati posisi sebagai Negara dengan gangguan tiroid tertinggi di Asia Tenggara berdasarkan hasil riset IMS Health. Sebanyak 17 juta masyarakat Indonesia mengalami gangguan tiroid. Jumlah ini bisa jadi lebih tinggi karena masih banyak kasus gangguan tiroid yang belum terdiagnosa.

Gangguan tiroid adalah gangguan yang menyerang kelenjar tiroid baik gangguan fungsi dalam memproduksi hormon tiroid maupun adanya kelainan kelenjar tiroid tanpa gangguan fungsi. Hormon tiroid sangat diperlukan dalam metabolisme tubuh, untuk membantu tubuh menggunakan energi agar tetap hangat, serta membuat otak, jantung, otot dan organ lainnya bekerja sebagaimana mestinya.

Gangguan tiroid dapat menyerang siapapun, mulai dari janin sampai usai lanjut. DR dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp(A)K FAAP, Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjelaskan, Hormon tiroid pada bayi dan anak berperan penting untuk perkembangan otak dan tumbuh kembang. Gangguan tiroid dapat mengakibatkan gangguan tumbuh kembang dan gangguan perilaku pada anak-anak. Gangguan tiroid sejak lahir (Hipotiroid Kongenital-HK) dapat mengakibatkan retardasi mental. Angka kejadian HK secara global berdasarkan hasil skrining neonatal adalah 1:2000 sampai 1:3000, sedangkan pada era pra-skrining angka kejadiannya adalah 1:6700 kelahiran hidup.

Selain HK, gangguan Tiroid pada anak lainnya adalah hipertiroid dan hashimoto. Untuk kasus hipertiroid pada anak sebagian besar adalah penyakit graves. Penyakit Graves merupakan penyakit autoimun dengan insiden 0.1-3 per 100.000 anak. Insiden nya meningkat sesuai umur jarang ditemukan pada usia sebelum 5 tahun dengan puncak insiden pada usia 10 – 15 tahun.

Perempuan lebih sering dibandingkan lelaki dan riwayat keluarga dengan penyakit autoimun meningkatkan resiko sebesar 60%. Untuk insiden tiroiditis hashimoto di dunia siperkirakan sebesar 0.3-1.5 kasus per 1000 populasi per tahun. Perempuan 3-5 kali lebih sering terkena dibandingkan lelaki. Pasien DM tipe 1, sindrom down, sindrom turner lebih beresiko menderita tiroiditis hashimoto maupun kondisi autoimun lainnya.  ”

Dr. Em Yunir SpPD-KEMD, PB PERKENI menjelaskan, Gangguan tiroid biasanya berupa kelainan fungsi hipertiroid (kelenjar tiroid memproduksi terlalu banyak hormon tiroid), hipotiroid (kelenjar tiroid tidak cukup memproduksi hormon tiroid) dan kanker tiroid. Gangguan fungsi tiroid seringkali sulit diidentifikasi karena gejalanya tidak spesifik, gejala gangguan tiroid sangat mirip dengan berbagai keluhan akibat gaya hidup modern sehingga sangat sering diabaikan. Akibatnya pasien seringkali tidak menyadari ada masalah pada dirinya dan tidak memeriksakan diri ke dokter.

Beberapa gejala tersebut diantaranya, 1) kesulitan untuk menurunkan atau menambah berat badan, walaupun telah melakukan diet dan olah raga, 2) perasaan lelah atau lamban, 3) perasaan depresi, gelisah, mudah marah, 4) kelainan haid, 5) perasaan kurang istirahat dan/atau sulit tidur, 6) kesulitan hamil, 7) perasaan kurang bersemangat atau kehilangan motivasi, 8) kesulitan berkonsentrasi, 9) kesulitan buang air besar atau diare serta 10) penurunan kemampuan pendengaran secara signifikan. Sangat penting bagi masyarakat untuk mengenal dan memahami gangguan tiroid terutama gejalanya, sehingga dapat segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan diagnosa dan pengobatan yang tepat sejak dini.

Evie Yulin, Direktur Biopharma PT Merck Tbk mengatakan, dengan pemahaman yang cukup, diharapkan masyarakat terutama kaum perempuan dapat lebih waspada dalam mengenali gejala-gejala gangguan tiroid yang mirip dengan gangguan akibat gaya hidup modern, dan tidak mengabaikan gejala yang terlihat sepele sekalipun. Segera periksakan diri dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan bila mengalami gejala tersebut dan mencurigai adanya gangguan tiroid.

Reskia Dwi Lestari, Marketing Communications Manager PT Prodia Widyahusada Tbk menambahkan, Laboratorium klinik Prodia menaruh perhatian besar terhadap penyakit tiroid yang jika hanya melihat gejala klinis saja dapat terjadi kesalahan diagnosis penyakit tiroid sebagai kondisi lain misalnya hiperlipidemia, ketidakteraturan menstruasi, menopause, atau depresi. Prodia menyediakan pemeriksaan TSHs dan FT4 yang merupakan pilihan optimal untuk menentukan status tiroid tahap awal dan membantu diagnosis gangguan fungsi tiroid yang lebih baik sehingga penanganan menjadi tepat sasaran.

Teks: Indra || Foto: Ist

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

FOLLOW @ INSTAGRAM